Cerita Pendek (Cerpen) Cinta Tak Berujung

Cerita Pendek (Cerpen) Cinta Tak Berujung

Cerita Pendek (Cerpen) Cinta Tak Berujung
Cerita Pendek (Cerpen) Cinta Tak Berujung

Cerita Pendek (Cerpen) Cinta Tak Berujung

Hujan deras siang hari ini menguyur kota Banjarbaru tempatku bekerja. Sambil menunggu hujan reda iseng-iseng kubuka telpon genggam ku sambil duduk di depan rumah makan ayam geprek.

Sambil memainkan telpon genggam aku tak jauh dari tempat dudukku seorang ibu yang sedang makan bersama dengan dua orang anaknya. Dan tepat di tepat di seberang jalan seorang yang duduk sambil melambaikan tangannya kepadaku.

"Hei Fandi " teriaknya memanggil sambil tersenyum kepadaku
"Ya, lagi hujan bro, dingin". Teriakku membalas teriakan Budi temanku sejak sekolah dasar di kampung. 

Budi merupakan salah satu teman dekatku yang sama-sama berjuang untuk memperbaiki nasib hidup. Maklumlah di kampung pekerjaan orangtuaku dan orang tua Budi petani kecil yang menunggu hasil panennya satu tahun satu kali.

Tak disangka-sangka Budi berlari ke arahku, sambil basah kuyup dia berkata kepadaku "eh, datang mana aja dari kemaren gak keliatan?". "Maaf Bud belum sempat memberitahumu, maklum lagi cari tambahan untuk menyambung biaya hidup" jawabku kepada Budi.

"Makanya, kalau kuliah itu jangan tidur aja". Kata budi sambil bercanda.
"Enak aja, mana mungkin Aku tidur waktu kuliah. Aku kan duduk di depan terus". Jawabku kepada Budi sambil tersenyum.

"Eh Bud, ngomong-ngomong kamu kemana atau datang darimana?" Tanyaku kepada Budi. "Ah biasa, kan aku baru saja jadi kawin jadi sibuk lah urus sana urus sini" jawab budi kepadaku. "Alah kamu itu, sombong mengalahkan raja fira'un". Sahutku.

"Eh, Fandi gimana tuh kabarnya si Raudah?" Tanya budi kepadaku dan seketika pikiran langsung tertuju kepada sesosok seorang perempuan yang nama dan orangnya tidak asing di kamus perjalanan hidupku. 

Raudah, nama yang sangat singkat cukup satu kata saja tetapi jika orang tidak secukup sejuta kata untuk melukisnya. Itulah perempuan yang pernah kutambatkan hatiku padanya, perempuan biasa dari kampung sama-sama menuntut ilmu di kota. 

Perempuan cantik di mataku yang tak lepas dari kerudungnya dan selama aku mengenalnya. Tidak pernah aku melihatnya berdandan yang berlebihan saat kuperhatikan hanya bedak tipis yang melekat di pipinya. 

Sungguh kesempurnaan yang luar biasa. Dan yang tidak kalah luar biasa perilakunya baik kepada setiap orang, tutur katanya manis tidak pernah melukai lawan bicaranya serta akhlaknya, begitulah yang kubisa menggambarkan kecantikan yang dimilikinya.

Hari Senin merupakan hari yang berat bagi yang merasa berat begitu juga Aku, tapi hari ini agak berbeda karena kebetulan hari ini ada kegiatan seminar tentang pendidikan. 

Kusiapkan sebelumnya baju putih polos dan celana hitam lalu kusemir sepatu butut yang ujung sudah banyak terkelupas. 

Sesampai di tempat tugasku yaitu sekolah yang tidak besar dan juga tidak begitu kecil dengan jumlah murid 300 orang. Setelah melakukan fingerprint di kantor guru langsung Aku menuju aula tempat seminar hari ini. 

Ku ambil posisi duduk di sisi kanan  agar mudah untuk menuju akses keluar. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seseorang yang tidak asing di mataku, jantungku berdegup kencang, Dialah Raudah perempuan yang selama ini sering muncul dalam pikiranku.

Post a Comment

0 Comments